Perusahaan Jerman menyuplai teknologi mata-mata juga ke negara-negara
otoriter. Aturan ekspor senjata digital di Jerman tergolong longgar.
Aktivis HAM dan oposisi menuntut aturan ekspor lebih ketat.
Houssam Aldeen dulu bertugas dua setengah tahun di militer Suriah dan
mempelajari teknologi mata-mata. Jurnalis di Damaskus itu membuat
sejumlah alamat e-mail palsu dan hanya menggunakan internet di lokasi
untuk publik. Tapi ia tetap ditangkap, dituduh bertukar informasi dengan
organisasi asing. Tampaknya dinas rahasia Suriah menyadap pembicaraan
Aldeen yang juga bekerja sebagai penerjemah untuk jurnalis asing.
Perusahaan Jerman termasuk penawar utama teknologi mata-mata semacam
itu. "Teknik ini membantu memerangi penjahat dan teroris", demikian
argumen produsen. Komputer dan telefon diawasi. Piranti lunak khusus
memungkinkan "petugas" ikut membaca sms. Melacak lokasi seseorang,
memata-matai komunikasi di internet dan mengetahui rahasia Password juga
mungkin.
"Tapi jika jatuh ke tangan yang salah, teknologi semacam itu cepat
menjadi senjata digital", kata Christian Mihr, ketua Reporter Tanpa
Batas kepada Deutsche Welle. Organisasi jurnalis internasional itu
menuduh perusahaan barat memasok teknologi keamanan kepada negara-negara
otoriter, yang juga memanfaatkan sarana elektronik memata-matai warga
yang kritis dan menangkapnya.
Penetapan Haluan Ekspor
Berbeda dengan bisnis senjata konvensional, untuk bisnis teknologi
pengawasan tidak ada pembatasan ekspor di tingkat nasional maupun di Uni
Eropa. Dengan sedikit pengecualian, perusahaan Jerman masih harus
meminta ijin ekspor. Hanya ekspor ke negara yang kena embargo seperti
Suriah atau Iran saat ini dibatasi. Karena itu perusahaan Jerman,
kalaupun menarik pertimbangan, lebih secara moral dibanding pembatasan
oleh UU.
Ini ditunjukkan misalnyaTrovicor. Perusahaan IT yang dibentuk jaringan
kerja Nokia Siemens 2009, dengan kantor pusat di München, meluncurkan
apa yang disebut "Monitoring Center". Sistem yang tahun 2000 dipasok
Siemens ke Suriah, dimana dengan itu komunikasi internet dan telefon
bisa diawasi secara luas.
Atas pertanyaan DW juru bicara perusahaan itu menjawab tertulis, ada
ikatan kontrak untuk tidak memberi informasi tentang pelanggan, negara
atau volume pasokan. Tapi dalam butir kesepakatan kontrak tercantum,
pembeli diwajibkan mengikuti garis haluan OECD untuk perusahaan
multinasional. Juga dijamin bahwa dalam pelaksanaan ekspor, semua UU
ekspor dan pengiriman internasional dipatuhi dan tidak dikirim ke
negara-negara yang dilanda perang saudara.
Syarat Ekspor Lebih Ketat?
Sekali sistemnya dikirimkan hampir tidak bisa dikaji sejauh mana
teknologi pengawasan tidak disalahgunakan. Jan van Aken pakar senjata
dari Partai Kiri Jerman "Die Linke" menuntut agar pembatasan ekspor
untuk teknologi pengawasan dimasukkan dalam UU Ekonomi Luar Negeri AWG
dan eskpor diawasi ketat.
Tapi Martin Lindner, jurubicara ekonomi politik Partai Liberal FDP di
Fraksi Parlemen Jerman Bundestag menolak pengetatan syarat ekspor bagi
teknologi pengawasan digital. "Tidak ada negara di bumi ini yang begitu
kritis dan mendasar melakukan pengkajian ekspor seperti Jerman."
Teknologi semacam itu tidak dibuat untuk melakukan penindasan.
Produk-produk semacam itu yang dipasok, memang bisa disalahgunakan,
dipakai melanggar hukum, tapi ini secara umum berlaku bagi setiap barang
di dunia, demikian Lindner.
Perubahan peraturan ekspor untuk teknologi pengawasan dari sisi
pemerintah Jerman saat ini dipandang tidak penting. Di Bundestag
beberapa pekan lalu peraturan yang diputuskan untuk memperbaharui UU
ekonomi luar negeri AWG mengenai teknologi pengawasan tidak disebutkan
secara eksplisit.

0 comments:
Post a Comment